Tuesday, July 10, 2007

pengajaran vs pendidikan anak

Mengajar anak usia dini?

Ya... kalimat di atas sekarang cukup banyak terdengar di kalangan orang tua dan praktisi pendidikan pra sekolah. Apalagi di kota-kota besar. Beberapa metode pun 'diciptakan' oleh kalangan praktisi pendidikan dan kemudian apalagi kalau tidak berujung business.

Salah satu metode yang lagi laku belakangan adalah metode Glenn Doman yang mengajari anak membaca bahkan sebelum sianak bisa bicara. Hebat khan...
Coba lihat alasannya adalah:

''Membaca merupakan kemampuan sensorik, dimana mata dan telinga bekerja,'' kata Irene F Mongkar, seorang praktisi Metode Glenn Doman[*].
Ia bahkan menambahkan:


"Jika menunggu usia anak semakin besar, maka akan semakin sulit mengarahkan
kemampuannya dalam membaca atau berhitung. Semakin muda usia seorang ketika
belajar membaca, semakin mudah dan kian cantik pula cara ia membaca''.

Hal inilah yang diterapkan Irene pada anaknya 16 tahun lalu, yang saat itu berusia
tiga bulan. Dengan metode Glenn Doman, putri semata wayangnya ini bisa membaca di usia 18 bulan kala itu [*].

Ya... untuk memperkuat argumentasinya sang praktisi mengemukakan pengalaman pribadi pada pengajaran anak-anaknya. Tidak salah memang... tetapi dari kaedah ilmu pengetahuan dan riset apakah bisa dipertanggungjawabkan?

Hal yang perlu menjadi pemikiran disini adalah pendidikan dan pengajaran pada anak. Pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang berbeda. Pendidikan bertitik tolak pada nilai, sedangkan pengajaran bertitik tolak pada informasi. Orang tua lebih bangga anaknya pintar membaca dan berhitung bahkan menulis pada saat masih prasekolah. Tetapi orang tua tidak merasa risau kalau anaknya nakal, berbohong, mau menang sendiri, mengambil barang orang lain, berkata kasar/kotor, dan perbuatan tidak terpuji lainnya.

Ada secuil kerisauan misalnya anak-anak 'dipaksa' sudah bisa membaca pada saat mau sekolah dasar. Bahkan ada tes masuk untuk sekolah dasar. Padahal anak-anak ini mau masuk sekolah dasar. Di SD lah mestinya anak-anak diajari yang dasar-dasar, dari membaca dan menulis. Karena 'perkembangan'nya sudah seperti itu, maka yang terjadi adalah anak yang ketika masuk SD belum bisa membaca dan berhitung akan 'ditinggal' oleh guru. Anak-anak ini dianggap bodoh.

Jika guru dan sekolah tidak peka pada perkembangan anak dan 'hanya' mengajari anak SD kelas 1 yang masuknya sudah bisa membaca, maka bisa dibayangkan seperti apa terlunta-luntanya anak yang belum bisa membaca. Sebaliknya juga bisa terjadi, karena di kelas 1 banyak anak yang belum bisa membaca, maka perhatian guru terfokus pada anak-anak tersebut dan akhirnya anak yang sudah bisa membaca akan bosan dengan suasana kelas. Ini hanyalah efek kecil yang mampu saya rekam. Dialog yang terbuka dari guru, sekolah, orang tua dan anak penting untuk mengatasi hambatan-hambatan distorsi perkembangan sosial semacam ini.

Jadi masih lebih penting mana antara pendidikan dan pengajaran untuk anak pra sekolah?

2 comments:

Anonymous said...

Menurut saya, belum saatnya anak usia di bawah 3 tahun diajari berhitung.karena untuk menumbuhkan konsep berhitung membutuhkan penguasaan konsep yang lain seperti himpunan dan korespondensi satu-satu. ketika anak 'dianggap' mampu berhitung tanpa menguasai konsep pendukungnya, anak akan lemah dalam konsep matematikanya mendatang. demikian jg untuk membaca, dalam usai 3 tahun anak belum membutuhkan kompetensi itu. saya kok yakin, bahwa hasil pendidikan anak usia dini tidak untuk dipetik sekarang (dan sesaat),namun untuk masa datang, mungkin 10 atau 15 tahun kemudian. dan kemampuan yang diperoleh terlalu dini tanpa kematangan mental bisa menjadi bumerang untuk perkembangannya di masa mendatang. WAllahu a'lam. -Lulu-

atha said...

setuju pak,,,
nice artikel,,,