Tuesday, August 7, 2007

panas vs dingin

Hari-hari ini cuaca di Graz cukup panas. Bagi penduduk sini, hawa panas disukai untuk berjemur dan tidak untuk bekerja. Pada jam-jam kerja di kantor dengan cuaca yang cukup panas 30oC, kondisinya sangat tidak nyaman bagi mereka. Beberapa kali mereka keluar masuk ruangan untuk rileks.

Untunglah di ruanganku tersedia AC (air conditioning). AC sendiri sangat tidak populer di negara empat musim. Bagi yang default temperatur badannya "minus" ternyata AC saja tidak cukup. Mereka masih menyalakan kipas angin (fan). Maka di ruangan kami (8 orang) selain sudah dingin, angin semilir pun berhembus dari tiga buah kipas angin tambahan.

Saya, sebagai satu-satunya orang tropis di ruangan justru sebaliknya. AC saja sudah terasa dingin apalagi ditambah kipas angin 3 buah. Maka jika saya terlihat diam di sudut ruangan, itu bukan berarti saya merasa nyaman. Tetapi saya kedinginan. Ya inilah salah satu resiko demokrasi dimana suara terbanyak "harus dimenangkan".

4 comments:

Rainer said...

Hmm, sulusianya di Austria adalah pulover. Kalau saya naik bis berAC di Indonesia saya biasanya tidak membawa pulover. Akibatnya: Flu. Jadi kalau bisa saya cari bis tidak berAC. Bonusnya: boleh merokok. :-)
Salam manis
.TA.

Suyitno said...

Mas Rainer pernah naik kereta argolawu dan semacamnya pas malam hari?. Komentar teman saat malam hari dimana AC nya tetap hidup. "wah ini bukan air conditioning tapi kulkas"... he..he..

Paijo said...

Kalau saya lebih suka naik bus malam AC karena menghindari asap rokok. Kalau ada yang nekad ngrokok di bus AC kan bisa kita gebukin rame-rame, sedangkan di bus non AC kan gak bisa nglarang begitu. Terimakasih dan salam eksperimen.

suyitno said...

he..he.. matur nuwun atas kunjungannya pak Paijo (ehm..)